Fashion of Life Style


Hingar bingar dunia modern dengan industri pakaian telah menggiring manusia pada bentuk pemujaan baru Fashion of Life Style, pakaian untuk menjamin keberlangsungan hidup. Dunia barat dengan lihai menciptakan perangkap sekaligus membuat mesin yang dapat mengirim wanita pada perangkat mereka. Mesin itu adalah jaringan informasi dunia baik media cetak (koran, majalah) maupun elektronik (tv, internet).

Orang Barat memiliki obsesi agar seluruh dunia memakai pakaian dan bergaya hidup yang sama dengan mereka dengan semboyan 3L yaitu life, love, liberty (kehidupan, cinta, dan kebebasan). Jaringan mereka sudah taraf internasional baik dalam bidang fashion maupun media propaganda. Saban hari berbagai stasiun televisi milik Barat mengudara ke seluruh dunia menebar Fashion of Life Style, tak terkecuali negara Arab dan Indonesia yang mayoritas Islam.

Akibatnya bisa ditebak, Indonesia dengan mayoritas penduduknya Islam, tapi ciri Islam tidak kelihatan, kecuali simbol-simbol berupa tempat ibadah. Sementara itu kehidupan kaum muslimahnya jauh dari tuntunan Islam. Berbagai merk pakaian dengan segudang gaya tertentu dapat disaksikan di jalanan. Mereka telah berhasil menjauhkan kaum muslimah dari tuntunan Islam terutama cara berpakaian. Hal ini pernah diramalkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

"Akan ada di kalangan umatku yang melahap bermacam-macam makanan, meneguk bermacam-macam minuman, pakaian dengan rupa-rupa mode dan warna serta banyak bicaranya." (HR. Tabrani dan Imam Abi Dunya).

Ironisnya sebagian besar muslimah di Indonesia bangga dengan pakaian ala barat yang dikenakannya. Padahal kita sudah mafhum nyaris tidak ada satu mode pun yang datang dari Barat yang dapat menyelamatkan aurat wanita. Umumnya buka-bukaan dan cenderung menantang laki-laki untuk menggoda bahkan memperkosanya. Hal ini tidak jauh dari perilaku wanita jaman Jahiliyah dulu ketika mereka bangga dengan ketelanjangannya.

Ash-Shabuny berkata : "Para mufassir berkata; "Adalah wanita Jahiliyah seperti juga wanita Jahiliyah modern kini, lalu lalang di hadapan lelaki dengan dada dan leher terbuka, dua lengannya terjulur, kadang badannya bergerak erotis atau rambutnya terurai untuk mendapatkan perhatian kaum lelaki. Sedangkan wanita muslimah menutupkan khumur mereka ke belakang, maka tinggallah bagian dadanya terbuka, kemudian kaum mu'minat diperhatikan untuk menutup bagian depannya sehingga tidak tampak lagi dan memelihara mereka dari kejahatan."

Wanita Berbeda Dengan Pria


Salah satu sebab mengapa dekadensi moral merajalela adalah berubahnya pola pikir wanita masa kini. Mereka berpikir bahwa dirinya tak berbeda dengan laki-laki mereka menuntut persamaan hak dalam segala hal (emansipasi) melalui gerakan feminisme. Sementara fitrahnya sebagai wanita yang memang berbeda dengan laki-laki jadi terlupakan. Mereka mencoba menyerobot pekerjaan yang jadi hak laki-laki.

Konsep wanita karir sebagai pengejawantahan dari emansipasi sebenarnya cara atau strategi Barat yang notabenenya Yahudi dan Nasrani menghancurkan generasi Islam, sehingga banyak generasi muda Islam dari kalangan wanita tertarik dengan pekerjaan di luar yang glamor.

Namun, betapapun hebat perjuangan feminisme ini, orang toh senantiasa menyadari akan adanya perbedaan-perbedaan yang fundamental antara kaum pria dan wanita. Allah SWT mengingatkan:
"Dan laki-laki itu tidak seperti wanita" (QS. Ali Imran : 36)

Menurut psikolog Kartini Kartono (1989), perbedaan-perbedaan tersebut dinyatakan antara lain sebagai berikut:

1. Betapapun baik dan cemerlangnya intelegensi wanita, namun pada intinya wanita itu hampir-hampir tidak pernah mempunyai interesse menyeluruh pada soal-soal teoritis seperti kaum laki-laki. Hal ini antara lain bertanggung pada struktur otaknya serta misi hidupnya. Jadi, wanita itu pada umumnya lebih tertarik pada hal-hal yang praktis daripada yang teoritis.

2. Kaum wanita itu lebih praktis meminati segi-segi kehidupan konkrit. Misalnya, ia sangat meminati masalah rumah tangga dan kehidupan sehari-hari. Sedangkan kaum pria dan umumnya cuma mempunyai interesse, jika peristiwanya mengandung latar belakang teoritis untuk dipikirkan lebih lanjut. Ringkasnya, wanita lebih dekat pada masalah-masalah kehidupan yang praktis konkrit; sedangkan kaum laki-laki lebih tertarik pada segi-segi kejiwaan yang bersifat abstrak.

3. Wanita pada hakikatnya lebih bersifat heterosentris dan lebih sosial. Karena itu lebih ditonjolkan sifat kesosialan. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: sesuai dengan kodrat alaminya, dan disebabkan oleh banyak mengalami duka-derita lahir batin (terutama waktu melahirkan bayinya), wanita lebih banyak tertarik pada kehidupan orang lain; terutama pada penderitaan orang lain. Karena itu ia senantiasa mencari objek perhatiannya di luar dirinya sendiri, terutama suami dan anak-anaknya, juga berminat pada lingkungannya.
Sebaliknya kaum laki-laki, mereka bersifat lebih egosentris, dan lebih suka berpikir pada hal-hal yang zakelijk. Mereka lebih obyektif dan esensia. Sedang wanita adalah sebaliknya; ia sanggup menyerahkan diri secara total pada partnernya.

4. Wanita lebih banyak mengarah keluar, kepada subyek lain. Pada setiap kecenderungan kewanitaannya, misalnya saja pada caranya bergaya dan berhias, secara primer wanita mengarahkan aktivitasnya keluar. Untuk menarik perhatian pihak lain, terutama sekse lain. Karena itu kebebasan dan suka berhias dalam batas-batas yang normal merupakan bukti bahwa pada dirinya terdapat instelling sosial yang murni feminim dan sehat.

5. Wanita biasanya tidak agresif. Sifatnya lebih pasif, lebih "besorgend", lebih "open", attent, suka melindungi-memelihara-mempertahankan. Ringkasnya bersifat "conserverend", memupuk memelihara dan mengawetkan terhadap barang-barang dan manusia lain. Oleh fungsinya sebagai pemelihara itu wanita dibekali oleh Allah swt. dengan sifat-sifat kelembutan dan keibuan tanpa mementingkan diri sendiri dan tidak mengharapkan balas jasa bagi segala perbuatannya.

6. Menurut Prof. Heymans, perbedaan antara laki-laki dan wanita terletak pada sifat-sifat sekundearitas, emosionalitas dan aktivitas dari fungsi-fungsi kejiwaan. Pada kaum wanita, fungsi sekundaritasnya tidak terletak di bidang intelek akan tetapi pada perasaan.

7. Kebanyakan wanita kurang berminat dan masalah-masalah politik; terlebih-lebih politik yang menggunakan cara-cara licik, munafik, dan kekerasan. Hal ini jelas kurang sesuai dengan nilai-nilai etis dan perasaan halus wanita. Juga di bidang Intelek, kaum wanita lebih banyak menunjukkan tanda-tanda emosionalnya. Karena itu, biasanya wanita memilih bidang dan pekerjaan yang banyak mengandung unsur relasi-emosional dan pembentukan perasaan. Misalnya pekerjaan guru, jururawat, pekerja sosial, bidan, dokter, seni dan lain-lain.

8. Wanita juga sangat peka terhadap nilai-nilai estetis, seni dan keterampilan. Sehubungan dengan perasaan halus dan unsur keibuannya yang penuh kelembutan, pada umumnya wanita kurang berminat kepada pelontaran kritik kritik tajam di bidang politik, kesenian dan kebudayaan. Mereka lebih suka menikmati hasil seni yang "indah" dari ketiga bidang itu.

9. Dalam kehidupan sehari-hari, wanita lebih aktif dan lebih resolut tegas. Di antara kehidupan, kemaluan dan aktivitasnya terdapat persesuaian dan harmonis. Jika seorang wanita sudah memulai sesuatu dan telah memutuskan untuk melakukan sesuatu, ia tidak banyak berbimbang hati melakukan langkah-langkah selanjutnya.

Perbedaan-perbedaan tersebut adalah fitrah agar satu sama lain saling menguatkan. Sementara posisi laki-laki tetap sebagai pemimpin.
Firman Allah swt. :

"Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita oleh karena itu Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) dan sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka..." (QS. An-Nisa : 34)

Dari pemaparan di atas jelaslah mengapa banyak kaum wanita yang justru terjerat rayuan dari idiologi lain karena sifatnya yang halus dan kurang memiliki perlindungan yang kokoh untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Semua Bermula dari Ibu


Munculnya wanita Islam yang berpakaian Kafir tak terlepas dari faktor keluarga, ibu gagal menjadi pendidik sejati sehingga lepas tanggung jawab dan tak perduli dengan moral anak. Tak jarang kita temukan ibu berjilbab sementara anaknya telanjang. Dari keluarga baik-baik sering kita temukan anaknya jadi pemabuk dan pezina. Wibawa ibu sebagai penanggung jawab pendidikan keluarga hilang di mata anak-anaknya.

Zaman yang tengah kita hadapi di mana dekadensi moral telah mendekati titik nadzir adalah bukti wibawa ibu telah hilang di mata anak. Ibu sudah tidak menjalankan fungsinya sebagai ibu sehingga anak pun tidak terbentuk sebagai sosok anak dalam arti yang sebenarnya. Anak memandang ibunya sebagai sosok yang melahirkan saja bukan sebagai sosok yang kemudian harus diturut segala titahnya.

Sesungguhnya inilah kiamat wustha (kiamat pertengahan) yang di sinyalir oleh Rasulullah saw. akan terjadi ketika ibu melahirkan majikannya (HR. Bukhari). Ibu melayani segala keperluan anaknya sementara anak sendiri tidak ada perhatian dan rasa hormat serta terima kasih kepada ibunya. Hal ini di sebabkan ibu terlalu sibuk dengan urusan yang tidak perlu dan meninggalkan rumah. Atau ibu memberi contoh yang tidak baik umpamanya menggiring anak untuk mencintai tayangan tertentu di teve yang cenderung menghancurkan moralitas.

Tugas utama seorang wanita ialah bertanggung jawab terhadap suami dan anak-anaknya, sebagaimana sabd Rasulullah SAW:
"Dan laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dan wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya" (HR. Al-Bukhari)

Seorang wanita yang tidak berperan sebagai ibu bagi anak-anak nya dan tak mampu menjadi wanita shalihah di hadapan suami nya,,,, kelak dia akan menyesal telah menyia-nyiakan tugas suci nya sebagai ibu dan istri

Muslimah yang Tak Berharga


Tidak ada sosok makhluk yang paling sempurna selain wanita. Sosok penuh misteri yang tak pernah ada tandingannya. Saban hari jutaan laki-laki memujinya, bersimpuh memohon cintanya. Para penulis novel klasik hingga modern mengakuinya sebagai ratu dunia akhirat. Mereka dipuji lewat untaian kata nan indah dan syair-syair lagu yang merdu. Wanita menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering. Di mana ada wanita disanalah kehangatan hidup dapat dirasakan.

Islam pun memandang wanita sebagai sosok yang indah dan sangat berharga. Coba selami al-Qur'an, kita akan temukan ribuan ayat yang berbicara wanita. Bergumullah dengan hadits, kita akan rasakan betapa agungnya wanita di mata Islam. Dan bacalah buku-buku karya para ulama Islam yang termasyur niscaya akan menemukan wanita ibarat batu permata yang penuh harga diri.

Tidak sembarang orang memiliki permata, hanya yang sebanding dengannya yang layak memiliki. Permata ditempatkan di tempat khusus serta dilindungi beragam alat pengaman. Hanya orang tertentulah yang boleh melihat dan meraba secara langsung. Itu juga hanya bisa didapatkan di tempat-tempat tertentu yang agung seperti itulah Islam mengibaratkan wanita (muslimah).

Wanita Islam dijaga dengan pakaian yang sempurna. Mereka memiliki ciri khas dalam bergaul. Gaya berbicaranya memiliki kharisma dan menyejukkan. Mereka adalah bidadari yang hanya boleh disentuh oleh keluarga sebagai muhrimnya dan hanya boleh dimiliki segala yang berharga di tubuhnya oleh suami tercinta. Itulah wanita dalam naungan Islam.

Namun Barat dan kaum Kafirin memandang wanita adalah makhluk yang tidak sempurna. Wanita dianggapnya barang aprikan (second) yang bisa didapatkan di emperan. Mereka lempar wanita keluar dan mencampakkannya di tong sampah. Siapapun boleh memungutnya bahkan menginjaknya. Coba kita saksikan betapa ngerinya cara mereka berpakaian dan bergaul. Namun hal itu sangat mengagetkan, para wanita itu rela di campakkan, mereka bangga ketelanjangannya diekspos media. Ketelanjangan itu mereka namakan kebebasan dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Ironisnya lagi, banyak wanita Islam yang tergiur dengan kebebasan model Barat. Maka antrilah wanita-wanita itu membeli tiket kebebasan. Dan saban hari kita saksikan wanita yang masih mengaku Islam telanjang tak ubahnya wanita Barat dan Kafirin. Mereka tanggalkan kehormatan yang diberikan Islam dan memilih tempat di emperan. Hilanglah mutiara itu, yang tersisa kini adalah kebanyakan muslimah yang tidak memiliki harga diri (iffah). Sebaliknya kita akan kesulitan menemukan wanita yang memegang teguh mutiara Islam.

Belum lagi kita temukan muslimah yang kembali ke masa Kejayaan Jahiliyah dengan menyukai mistik dan keuntungan fatamorgana lewat arisan dan sebagainya serta berbagai hal yang menggadaikan harga dirinya dengan harga yang murah. Semuanya dapat disimak dalam pembahasan berikutnya.
Back To Top