Banjir Nabi Nuh Menurut Bibel


Fasal 6, 7 dan 8 daripada Kitab Kejadian dipergunakan untuk meriwayatkan banjir untuk lebih tepat, saya katakan bahwa ada dua riwayat yang tidak ditulis satu di samping lainnya, akan tetapi terpisah dengan kalimat-kalimat yang memberi kesan seperti adanya kesinambungan antara berbagai-bagai dongeng. Akan tetapi sesungguhnya dalam tiga fasal tersebut terdapat kontradiksi yang menyolok. Kontradiksi tersebut dapat diterangkan dengan adanya dua sumber yang berlainan, yaitu sumber Yahwist dan sumber Sakerdotal.

Kita telah melihat sebelum ini bahwa dua sumber tersebut membentuk suatu campuran yang pincang. Tiap teks asli dipotong-potong dalam paragraf-paragraf dan kalimat-kalimat, dengan unsur daripada satu sumber berseling dengan unsur-unsur dari sumber yang lain, sehingga dalam teks Perancis, orang melompat dari satu sumber ke sumber yang lain tujuh belas kali, sepanjang hanya seratus baris.

Secara keseluruhan, hikayat banjir adalah sebagai berikut:

Karena maksiat manusia sudah sangat umum, Tuhan memutuskan untuk memusnahkan manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, Tuhan memberi tahu Nabi Nuh dan memerintahnya untuk membikin perahu, serta membawa muatan yang terdiri dari isterinya, tiga orang anaknya dengan isteri-isteri mereka, serta beberapa makhluk hidup lain. Mengenai makhluk-makhluk hidup ini, dua sumber berbeda. Satu riwayat yang berasal dari sumber Sakerdotal mengatakan Nuh membawa satu pasang dari tiap jenis. Kemudian dalam kata-kata berikutnya (berasal dan sumber Yahwist) dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan mengambil 7 dari tiap-tiap jenis jantan dan betina dari jenis yang suci, dan hanya satu pasang dari jenis yang tidak suci.


Akan tetapi lebih lanjut lagi, dikatakan bahwa Nuh hanya membawa dalam perahu itu satu pasang daripada tiap jenis. Ahli-ahli Perjanjian Lama seperti R.P. de Vaux mengatakan bahwa teks semacam itu merupakan teks Yahwist yang sudah dirubah.

Satu paragraf (dari sumber Yahwist) mengatakan bahwa sebab banjir adalah air hujan, sedang paragraf lain (dari sumber Sakerdotal) mengatakan bahwa sebab banjir adalah dua yaitu air hujan dan sumber-sumber dari tanah.

Seluruh bumi telah tenggelam sampai diatas puncak gunung. Segala kehidupan musnah. Setelah satu tahun, Nabi Nuh keluar dari perahunya yang telah berada diatas puncak gunung Ararat setelah air bah menurun.

Di sini kita harus menambahkan bahwa lamanya banjir itu berbeda menurut sumbernya. Sumber Yahwist mengatakan 40 hari sedang sumber Sakerdotal mengatakan 50 hari.

Sumber Yahwist tidak memastikan pada umur berapa banjir itu dialami oleh Nabi Nuh, tetapi sumber Sakerdotal mengatakan bahwa banjir itu terjadi waktu Nabi Nuh berumur 600 tahun.

Sumber Sakerdotal juga memberi penjelasan tentang tahun terjadinya banjir yaitu dengan tabel silsilahnya, baik dari segi Nabi Adam maupun dari segi Nabi Ibrahim. Oleh karena menurut perhitungan yang dilakukan atas dasar Kitab Kejadian, Nabi Nuh dilahirkan 1056 tahun sesudah Nabi Adam (silahkan lihat tabel nenek moyang dari Ibrahim) maka banjir telah terjadi 1656 tahun sesudah lahirnya Nabi Adam. Akan tetapi dilihat dari segi Nabi Ibrahim, Kitab Kejadian menempatkan terjadinya banjir pada 292 tahun sebelum lahirnya Nabi Ibrahim tersebut.


Menurut Kitab Kejadian, banjir mengenai seluruh jenis manusia dengan seluruh makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan telah mati di atas bumi. Kemanusiaan telah dibangun kembali, dimulai dengan tiga orang putra Nuh dan isteri-isteri mereka, sedemikian rupa bahwa tiga abad kemudian lahirlah Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim mendapatkan jenis manusia sudah pulih kembali dalam kelompok-kelompok bangsa. Bagaimana dalam waktu yang singkat, jenis manusia dapat pulih kembali? Soal ini
telah menghilangkan kepercayaan kepada riwayat banjir tersebut.

Di samping itu, bukti-bukti sejarah menunjukkan ketidakserasian riwayat tersebut dengan ilmu pengetahuan modern. Sekarang ini ahli sejarah menempatkan Nabi Ibrahim pada tahun 1800-1850 SM. Jika banjir telah terjadi 3 abad sebelum Nabi Ibrahim seperti yang diterangkan oleh Kitab Kejadian dalam silsilah keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir telah terjadi pada abad XXI atau XXII SM. Pada waktu itu, menurut ilmu sejarah modern, di beberapa tempat di dunia ini sudah bermunculan bermacam-inacam peradaban yang bekas-bekasnya telah sampai kepada kita. Waktu itu, bagi Mesir merupakan periode sebelum Kerajaan Pertengahan (tahun 2100 SM), kira-kira zaman peralihan pertama sebelum Dinasti ke- sebelas. Waktu itu, adalah periode dinasti ketiga di kota Ur atau Babylon. Kita tahu dengan pasti bahwa tak ada keterputusan dalam kebudayaan, jadi tak ada pemusnahan jenis manusia seperti dikehendaki oleh Bibel.


Oleh karena itu maka kita tak dapat memandang tiga riwayat Bibel sebagai menggambarkan kejadian-kejadian yang sesuai dengan kebenaran. Jika kita ingin bersikap obyektif kita harus mengakui bahwa teks-teks yang kita hadapi tidak merupakan pernyataan kebenaran. Mungkinkah Tuhan memberikan sebagai wahyu kecuali hal-hal yang benar? Kita tak dapat menggambarkan Tuhan yang memberi pelajaran kepada manusia dengan perantaraan khayal dan khayal yang kontradiksi. Dengan begitu maka kita terpaksa membentuk hipotesa bahwa Bibel adalah tradisi yang secara lisan diwariskan dari suatu generasi kepada generasi yang lain, atau hipotesa bahwa Bibel adalah suatu teks dari tradisi-tradisi yang sudah tetap. Jika seseorang mengatakan bahwa suatu karya seperti Kitab
Kejadian telah dirubah-rubah sedikitnya dua kali selama tiga abad, maka tidak mengherankan jika kita mendapatkan didalamnya kekeliruan-kekeliruan atau riwayat yang tidak sesuai dengan hal-hal yang telah diungkapkan oleh kemajuan pengetahuan manusia, yaitu kemajuan yang jika tidak memberi ilmu tentang segala sesuatu, sedikitnya kemajuan yang memungkinkan seseorang mendapat pengetahuan yang cukup untuk menilai keserasian dengan riwayat-riwayat kuno. Tidak ada yang lebih logis daripada berpegangan bahwa interpretasi kesalahan teks-teks Bibel itu hanya menyangkut manusia.

Sangat disayangkan, bahwa interpretasi semacam ini tidak diakui oleh kebanyakan ahli tafsir Bibel, baik orang Yahudi maupun orang Kristen. Tetapi walaupun begitu argumentasi mereka perlu kita perhatikan.

Tahun Penciptaan Alam dan Manusia Menurut Bibel


 
Setelah di artikel sebelumnya saya sudah membahas mengenai Penciptaan Alam Menurut Bibel, kali ini saya akan membahas lebih jauh mengenai Tahun Penciptaan Alam dan Manusia Menurut Bibel, silakan disimak.
Menurut bahan-bahan yang terdapat dalam Perjanjian Lama, kalender Yahudi menempatkan tahun-tahun itu secara pasti. Pertengahan kedua daripada tahun 1975, sama dengan permulaan tahun yang ke 5736 daripada penciptaan alam. Manusia yang diciptakan Tuhan beberapa hari sesudah terciptanya alam, mempunyai usia yang sama, menurut kalender Yahudi.

Tentu saja tahun tersebut perlu dikoreksi, karena tahun Yahudi dihitung menurut gerak bulan sedangkan kalender Barat didasarkan atas tahun matahari, akan tetapi koreksi sebanyak 3% agar menjadi tepat, tidak ada artinya. Untuk tidak meruwetkan perhitungan, lebih baik tidak melakukan koreksi itu. Yang penting di sini adalah soal kebenaran, maka tidak penting jika masa berjuta tahun itu berselisih 30 tahun untuk lebih dekat kepada kebenaran, marilah kita katakan bahwa menurut perhitungan Yahudi, terciptanya alam terjadi pada abad XXXVII SM.

Apakah yang diajukan kepada kita oleh Sains modern? Sukarlah kiranya untuk menjawab pertanyaan yang mengenai terbentuknya alam; yang dapat kita katakan adalah waktu terbentuknya sistem matahari (solair), karena ini dapat kita kira-kirakan dengan cara yang memuaskan. Orang memperkirakan bahwa antara waktu terciptanya alam dan waktu sekarang, kirakira 4.5 milliard tahun. Dengan begitu dapat kita ukur perbedaan antara kebenaran yang sudah ditetapkan oleh ilmu
pengetahuan (dan yang akan kita bicarakan secara panjang dalam bagian ketiga dari artikel ini) dan hal-hal yang dibicarakan oleh Perjanjian Lama. Hal-hal terakhir ini adalah hasil dari penyelidikan yang teliti terhadap teks Bibel. Kitab Kejadian memberi keterangan yang persis mengenai perbedaan waktu antara Adam dan Ibrahim. Daftar tahun antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa tidak lengkap dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber lain.

A. Dari Adam sampai Ibrahim

Kitab Kejadian dalam fasal 4, 5, 11, 21, dan 25 memberi silsilah nenek moyang Ibrahim sampai Nabi Adam dalam garis lurus, secara sangat teliti. Dengan menyebutkan umur masing-masing, umur bapak ketika anaknya lahir, daftar itu memudahkan kita untuk menemukan tahun kelahiran dan kematian tiap-tiap orang tua, sampai kepada Adam, seperti tertera dalam daftar di bawah ini.

SILSILAH NABI ADAM

No. Nama Tahun kelahiran sesudah terciptanya Adam Lama hidup Tahun kematian sesudah terciptanya Adam

 1. Adam 000 930 930
 2. Seth 130 912 1042
 3. Enokh 235 905 1140
 4. Kenan 325 910 1235
 5. Mahaleel 395 895 1290
 6. Jered 460 962 1422
 7. Henoe 622 365 987
 8. Meluschelach 687 969 1656
 9. Lemek 876 777 1653
10. Noch 1056 950 2006
11. Sem 1556 600 2156
12. Arpasehad 1658 438 2096
13. Sehelach 1693 433 2126
14. Heber 1723 464 2187
15. Peleg 1757 239 1996
16. Rehu 1787 239 2026
17. Serug 1819 230 2049
18. Nakhar 1849 148 1997
19. Terah 1878 205 2083
20. Ibrahim 1948 175 2123

Daftar ini disusun menurut keterangan yang berasal dari teks Sakerdotal daripada Kitab Kejadian. Teks tersebut adalah satu-satunya teks yang memberi kepastian. Kita dapat mengambil kesimpulan dari teks tersebut bahwa Nabi Ibrahim, menurut Bibel, dilahirkan pada tahun 1948 sesudah Nabi Adam.

B. Dari Nabi Ibrahim Sampai Nabi Isa

Untuk periode tersebut, Bibel tidak memberi keterangan angka-angka yang dapat menyampaikan kita kepada evaluasi tepat sebagaimana kita mendapat keterangan mengenai nenek moyang Nabi Ibrahim dari Kitab Kejadian. Untuk mengukur waktu yang memisahkan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa, kita harus mencari bantuan dan sumber lain.

Pada waktu ini orang menempatkan Nabi Ibrahim kurang lebih 18 abad S.M. Hal ini jika digabungkan dengan keterangan Kitab Kejadian mengenai perbedaan waktu antara Nabi Ibrahim dan Nabi Adam, akan memberi hasil bahwa Adam hidup 38 abad sebelum Nabi Isa. Perhitungan ini sudah terang salah. Kesalahannya disebabkan oleh perhitungan Bibel mengenai waktu antara Adam dan Ibrahim, yaitu perhitungan yang dijadikan dasar untuk membikin kalender Yahudi. Pada waktu ini kita dapat membantah mereka yang mempertahankan kebenaran Bibel dengan menunjukkan kepincangan antara ilmu pengetahuan modern dengan perkiraan khayalan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta Yahudi abad VI S.M.; selama berabad-abad perkiraan pendeta tersebut selalu menjadi dasar hubungan antara zaman sejarah kuno dengan Nabi Isa.

Bibel yang diterbitkan sebelum zaman modern menyajikan kronologi kejadian-kejadian yang terjadi semenjak penciptaan alam sampai waktu Bibel tersebut dicetak. Kronologi tersebut biasanya dimuat dalam suatu kata pengantar yang mengandung angka-angka yang sedikit berlain-lainan menurut waktu pencetakan Bibel tersebut. Sebagai contoh, Vulgate Clement (tahun 1621) menempatkan Ibrahim pada waktu yang lebih kuno dan menempatkan penciptaan alam pada abad XL SM. Bibel Walton yang dicetak pada abad XVII menyajikan kepada pembacanya, suatu tabel yang mirip dengan tabel nenek moyang Nabi Ibrahim, sebagai tambahan kepada teks dalam beberapa bahasa; pada umumnya perkiraannya sesuai dengan angka-angka yang tersebut dalam tabel yang kita muat.

Pada zaman modern, orang tidak lagi dapat mempertahankan kronologi khayalan yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern yang telah dapat membuktikan bahwa penciptaan alam telah terjadi pada waktu yang sangat jauh lebih dahulu. Tetapi orang merasa puas hanya dengan menghilangkan kata pengantar dan tabel, dan tidak berani mengatakan kepada para pembaca tentang kelemahan teks Bibel yang dijadikan dasar untuk membuat tabel, sehingga teks Bibel tak dapat dianggap mengatakan kebenaran. Orang lebih suka memasang tabir, dan mencari cara untuk berdebat secara halus agar teks Bibel tersebut dapat diterima tanpa dikurangi.

Karena inilah maka silsilah keturunan (genealogi) teks Sakerdotal sampai sekarang masih dihormati orang, meskipun orang pada abad XX ini tak dapat lagi menerima dasar-dasar khayalan.

Mengenai tahun munculnya manusia di atas bumi, hasil pengetahuan modern baru dapat memberi penjelasan sampai batas tertentu. Kita dapat merasa yakin bahwa manusia telah ada di atas bumi ini, dengan kekuatan berfikirnya dan kekuatan bertindaknya, dua kekuatan yang membedakannya daripada binatang-binatang yang bentuknya hampir serupa manusia, yaitu dalam waktu yang lebih mutakhir pada periode yang dapat diperkirakan, tetapi tidak dengan kepastian yang mutlak.

Orang sudah dapat mengatakan sekarang bahwa bekas-bekas manusia yang berfikir dan bertindak telah ditemukan, dan umur bekas-bekas itu dapat diukur dengan jarak puluhan ribu tahun.

Penetapan perkiraan waktu ini ada hubungannya dengan type manusia prasejarah yang telah diungkapkan sebagai yang paling baru, seperti manusia neo-Anthropien (cromagnon). Memang ada bekas-bekas lain tentang manusia telah diungkapkan di beberapa tempat, yaitu mengenai manusia yang kurang berevolusi (paleo Anthropies) yang diperkirakan umurnya sudah ratusan ribu tahun. Tapi apakah mereka itu betul manusia?

Bagaimanapun juga, bukti-bukti ilmiah adalah pasti, mengenai neo-Anthropien, mereka adalah sebelum zaman manusia pertama yang dilukiskan oleh Kitab Kejadian. Dengan begitu maka terdapat kepincangan antara angka-angka yang tersebut dalam Kitab Kejadian mengenai munculnya manusia di atas bumi dengan pengetahuan ilmiah yang sudah pasti di waktu ini.

Penciptaan Alam Menurut Bibel


Sebagai yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux, Kitab Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan alam. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki kedua riwayat itu secara terpisah untuk mengetahui kesesuaiannya dengan penyeiidikan-penyelidikan ilmiah. 

RIWAYAT PERTAMA 

Riwayat pertama memenuhi fasal I dan ayat-ayat pertama dari fasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat menonjol tentang ketidaktepatan ilmiah. Kita perlu melakukan kritik sebaris demi sebaris. Teks yang kita muat di sini adalah teks menurut terjemahan Lembaga Bibel Yerusalem, (Ecole Biblique de Yerusalem). Dalam bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi). 

Fasal 1, ayat 1 dan 2, 

1. "Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi. 

2. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah melayang-layang diatas muka air itu." 

Kita dapat menerima bahwa pada tahap bumi belum diciptakan, apa yang kemudian menjadi alam yang kita ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan, akan tetapi tersebutnya adanya air pada periode tersebut hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin sekali ini adalah terjemahan suatu mitos. Kita akan melihat dalam bagian ketiga dari buku ini bahwa pada tahap permulaan dari terciptanya alam yang terdapat adalah gas. Maka disebutkannya air di situ adalah suatu kekeliruan. 

Ayat 3 sampai 5 

3. "Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu terangpun jadilah. 

4. Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya, lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap. 

5. Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang pertama."

Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi kompleks yang terjadi pada bintang-bintang. Hal ini akan kita bicarakan pada bagian ketiga daripada buku ini. Pada tahap penciptaan alam yang kita bicarakan sekarang, menurut Bibel, bintang-bintang belum diciptakan, karena sinar di langit baru disebutkan dalam ayat 14 dari Kitab Kejadian, yaitu sebagai ciptaan pada hari keempat, untuk "memisahkan siang daripada malam," "untuk menerangi bumi." Dan ini semua 
betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek (sinar) pada hari pertama, dengan menempatkan penciptaan benda yang menyebabkan sinar (bintang-bintang) tiga hari sesudah itu. Lagipula menempatkan malam dan pagi pada hari pertama adalah alegori (kiasan) semata-mata, karena malam dan pagi sebagai unsur hari tak dapat digambarkan kecuali 
sesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah sinar planetnya yaitu matahari. 

Ayat 6 sampai 8 

6. "Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air. 

7. Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian. 

8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua." 

Mitos air diteruskan dalam ayat-ayat tersebut dengan memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah langit. Dalam riwayat Banjir Nabi Nuh, langit membiarkan air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua kelompok tak dapat diterima secara ilmiah. 

Ayat 9 sampai 13 

9. "Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian. 

10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat, dan akan perhimpunan segala air itu dinamainya laut; maka dilihat Allah itu baiklah adanya. 

11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di atas bumi itu; maka jadilah demikian. 

12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang berbiji dengan tabiatnya dan pohon-pohon yang berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya; maka dilihat Allah itu baiklah adanya

13. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ketiga."

Fakta bahwa pada suatu periode dalam sejarah bumi, ketika bumi ini masih tertutup dengan air, terjadi bahwa daratan-daratan mulai muncul, adalah suatu hal yang dapat diterima secara ilmiah. Akan tetapi bahwa pohon yang mengandung biji-biji bermunculan sebelum terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa siang dan malam silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.

Ayat 14 sampai 19

14. "Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa dan hari dari tahun.

15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah demikian.

16. Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang besar itu, yaitu terang yang besar itu akan memerintahkan siang dan terang yang kecil akan memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.

17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit akan memberi terang di atas bumi.

18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah itu baik adanya.

19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke empat."

Di sini gambaran yang diberikan oleh pengarang Injil dapat diterima. Satu-satunya kritik yang dapat kita lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi dan bulan telah memisahkan diri daripada matahari; menempatkan penciptaan matahari dan bulan sesudah penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang sudah disetujui secara pasti dalam ilmu pengetahuan mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.

Ayat 20 sampai 23

20. "Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di atas bumi dalam bentangan langit.

21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baik adanya.

22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah biak dan bertambah kamu dan damaikanlah air yang di dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun bertambah-tambah di atas bumi.

23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang kelima."

Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal yang tak dapat diterima Timbulnya binatang-binatang, menurut Kitab Kejadian, bermula dengan binatang-binatang laut dan burung-burung. Menurut Bibel, adalah pada hari keesokannya bahwa bumi dihuni oleh binatang-binatang (kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);

Sudah terang bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita akan membicarakan hal tersebut pada bagian ketiga daripada artikel ini. Setelah adanya kehidupan di laut, daratan dihuni oleh binatang-binatang. Di antara binatang-binatang yang hidup diatas bumi, ada suatu jenis reptil (binatang melata) yang dinamakan pseudo suchiens yang hidup pada periode kedua dan yang dikirakan menjadi asal burung-burung. Beberapa sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan ini. Tetapi binatang-binatang darat tidak disebutkan oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah munculnya burung-burung, oleh karena itu maka urutan munculnya binatang darat dan burung-burung tak dapat diterima.

Ayat 24 sampai 31

24. "Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.

25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.

27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.

28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia, dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang menjalar di atas bumi.

29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.

30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah demikian.

31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke enam."

Ini adalah gambaran selesainya penciptaan alam. Dalam gambaran itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang hidup yang tidak disebutkan sebelumnya, dan mengingatkan kepada bahan makanan yang bermacam-macam yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.

Kesalahannya, sebagai yang telah kita lihat, adalah dalam menempatkan munculnya binatang-binatang darat sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas bumi di tempatkan secara benar sesudah munculnya makhluk-makhluk hidup yang lain.

Riwayat penciptaan alam selesai dengan tiga ayat
pertama dari fasal II.

1. "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta dengan segala isinya.

2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.

3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan menyempurnakan dia.

4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit dan bumi. "

Ayat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:

Pertama mengenai arti kata-kata. Teks tersebut adalah terjemahan dari Lembaga Bibel Yerusalem. Ayat pertama berbunyi: "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta dengan segala isinya." Perkataan terakhir dalam bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al Kitab Yerusalem berbunyi "avec toute leur armee,' yang artinya, dengan segala bala tentaranya.

Ayat kedua mengandung kata, berhentilah ia daripada pekerjaannya. Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah, sebagai terjemahan Ibrani "chabbat." Dan sampai hari ini, hari Sabtu merupakan hari istirahat bagi orang Yahudi.

Sudah terang bahwa "istirahat" yang dilakukan Tuhan setelah bekerja keras selama enam hari adalah suatu legenda, akan tetapi legenda itu ada tafsirannya. Kita harus ingat bahwa riwayat penciptaan Tuhan yang kita bicarakan di sini berasal dari tradisi sakderdotal atau tradisi pendeta-pendeta, yakni tradisi yang ditulis oleh para pendeta atau juru tulis yang merupakan pewaris spiritual dari Yehezkiel, nabi Bani Israil pada waktu pengasingan di Babylon, pada abad VI SM. Kita mengetahui bahwa para pendeta mengolah versi Yahwist dan Elohist daripada Kitab Kejadian, menyusunnya menurut selera mereka, dan menurut adat kebiasaan mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan oleh R.P. de Vaux. Kita telah membicarakan segi ini pada lain tempat.

Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah lebih tua beberapa abad daripada teks Sakerdotal, dan tidak menyebutkan bahwa Tuhan beristirahat setelah bekerja keras enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks Sakerdotal. Penulis teks Sakerdotal membagi waktu penciptaan alam dalam hari-hari yang disamakan dengan hari-hari seminggu yang biasa serta menekankan istirahat hari Sabtu yang mereka rasa harus dipertahankan kepada pengikut-pengikut mereka dengan mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini, maka riwayat penciptaan alam disajikan dengan logika keagamaan yang semu, yang hasil-hasil penyelidikan ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.

Menyelipkan hari ke tujuh (daripada hari-hari satu minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti yang dilakukan oleh pengarang sumber Sakerdotal, tak dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang, semua orang tahu bahwa terciptanya alam, termasuk di dalamnya bumi tempat hidup kita telah terjadi dalam tahap waktu yang sangat panjang, yang penyelidikan ilmiah belum dapat memastikan walaupun secara "kurang lebih." Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga daripada buku ini, yakni pada waktu kita membicarakan tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.

Seandainya riwayat penciptaan alam selesai pada malam hari yang ke 6, dan tidak menyebutkan hari ke tujuhatau Sabat waktu Tuhan beristirahat, atau seandainya kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai enam periode seperti yang tersebut dalam Al Qur-an, riwayat Sakerdotal tetap tak dapat diterima karena urutan periode-periode tersebut sangat kontradiksi dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.

Dengan begitu maka riwayat Sakerdotal merupakan konstruksi imaginatif yang lihay yang mempunyai suatu tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu kebenaran.

Riwayat kedua tentang penciptaan alam yang termuat dalam Kitab Kejadian sesudah riwayat pertama, dengan tanpa peralihan (transisi) dan tanpa komentar, tidak menjadi sasaran kritik yang dilancarkan terhadap riwayat pertama.

Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode yang jauh lebih kuno, kira-kira 3 abad. Riwayat ini pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan manusia dan surga dunia di samping membicarakan penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat.
Beginilah bunyinya:

Fasal 2, 4b-7

4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit dan bumi.

5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum ada orang akan membelakan tanah itu.

6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan segala tanah itu.

7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa yang hidup adanya."

Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel yang kita miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian ditambah dengan riwayat Sakerdotal, memang dari permulaan adalah sangat singkat? Tak ada orang yang dapat mengatakan bahwa teks Yahwist pernah dipotong, dan tak ada pula orang yang dapat mengatakan bahwa beberapa baris yang kita miliki itu merupakan segala sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno daripada Bibel mengenai penciptaan alam.

Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan terbentuknya bumi dan langit. Riwayat tersebut hanya memberi gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari dalam bumi menutupi dataran bumi. Teks selanjutnya memberi konfirmasi karena ayat 8 mengatakan: "Maka diperbuat Tuhan Allah pula suatu taman dalam Eden, di sebelah Timur, maka di sanalah ditaruhnya akan manusia yang telah dirupakannya itu." Dengan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu yang sama dengan diciptakannya manusia. Ini secara ilmiah tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama setelah tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.

Itulah satu-satunya kritik yang dapat dilontarkan
kepada teks Yahwist. Dengan tidak mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya alam dan bumi, dua hal yang dikatakan oleh teks Sakerdotal sebagai dua hal yang terjadi dalam satu minggu, teks Yahwist terhindar dari kritik berat yang dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.
Back To Top