Manusia Menundukkan Angkasa


Terdapat tiga ayat dalam Qur-an yang perlu sekali kita perhatikan, yang pertama menerangkan secara tegas hal yang dapat dilakukan manusia untuk menundukkan angkasa. Dalam dua ayat lainnya Tuhan menyebutkan bahwa orang-orang kafir Mekah akan sangat terperanjat jika mereka dapat naik ke langit. Hal ini merupakan isyarat kepada suatu hipotesa yang tak akan dikerjakan oleh mereka.

Ayat pertama adalah ayat 33 daripada surat 55:

"Hai jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, dan kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (sedang kamu tidak punya kekuatan)."

Terjemahan tersebut memerlukan beberapa penjelasan:

 a. Kata bahasa Perancis (si) (jika) menunjukkan kondisi yang ada hubungannya dengan kenyataan atau dengan hipotesa yang dapat dijelmakan atau hipotesa yang tak dapat dijelmakan. Bahasa Arab lebih mampu menunjukkan perbedaan kondisi tersebut. Ada kata (huruf) yang menunjukkan kejadian yaitu (idza'), ada lagi huruf yang menunjukkan hipotesa yang mungkin yaitu (in), ada pula huruf yang menunjukkan hipotesa yang tak mungkin dengan huruf (law). Jadi Qur-an menyebutkan kemungkinan material realisasi yang kongkrit. Keterangan lingustik ini menghilangkan secara tegas kemungkinan interpretasi mistik yang beberapa pengarang lebih condong untuk memberikannya, tetapi hal itu terang salah.

 b. Tuhan mengarahkan pembicaraannya kepada roh (jin) dan kepada manusia, dan tidak kepada hal-hal yang khayali.

 c. Menembus sampai ke bahagian sebaliknya, adalah terjemahan kata kerja (nafadza) yang diikuti dengan huruf (min). Menurut kamus Kasimirski berarti memasuki, melalui dan keluar dari segi lain daripada suatu benda (seperti panah yang menembus). Hal tersebut berarti memasuki dalam dan keluar dari pinggiran lain dari daerah-daerah tertentu.

 d. Kekuasaan (sulthan) yang akan dimiliki manusia untuk melaksanakan proyek ini merupakan kekuasaan yang datang dari Tuhan.


Tidak syak lagi bahwa ayat tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa dikemudian hari manusia akan dapat melakukan apa yang biasanya sekarang kita namakan secara tidak benar "menundukkan angkasa." Kita perlu memperhatikan juga bahwa teks Qur-an tidak hanya menyebutkan penetrasi di daerah-daerah samawi, akan tetapi juga penetrasi di bumi, artinya masuk dalam-dalam ke bumi.

Dua ayat lainnya diambil dari surat 15, yakni ayat 14 dan 15. Tuhan membicarakan tentang orang-orang kafir di Mekah, seperti konteks paragraf surat tersebut menerangkan:

"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik keatasnya. Tentulah mereka berkata: Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir."

Ini adalah suatu keheranan terhadap suatu kejadian yang tak tersangka, berbeda dengan apa yang dapat dikhayalkan oleh manusia.

Kata-kata yang bersyarat di sini memakai huruf (law) yang menunjukkan bahwa hipotesa yang disebutkan tidak akan dilaksanakan bagi mereka yang memperhatikan paragraf ini.

Dalam hal-hal menundukkan "angkasa" kita berhadapan dengan dua teks paragraf Qur-an; yang satu menunjukkan suatu kejadian yang akan terjadi pada suatu waktu karena kekuasaan yang akan diberikan oleh Tuhan kepada otak dan ketrampilan manusia. Yang lain menunjukkan suatu kejadian yang tidak akan dialami oleh orang-orang kafir di Mekah; inilah sebabnya maka kejadian itu dilukiskan sebagai hal yang tak akan terjadi. Tetapi kejadian itu akan dialami oleh orang-orang lain, seperti yang digambarkan oleh ayat pertama. Ayat ini menggarnbarkan reaksi manusia terhadap suatu kejadian yang tak mereka harapkan tetapi yang akan diberikan kepada astronout-astronout. Reaksi itu adalah pandangan yang penuh dengan kekhawatiran serta perasaan seakan-akan diri mereka kena sihir.

Mulai tahun 1961 para astronout telah mengalami petualangan ini. Tahun 1961 adalah tahun dimana untuk pertama kali manusia dapat terbang mengelilingi bumi. Menurut laporan para astronout tersebut, jika seseorang berada diluar atmosfir bumi, langit tidak lagi nampak biru seperti yang dilihat oleh penduduk bumi, dan yang merupakan hasil fenomena cahaya matahari yang disedot oleh lapisan-lapisan atmosfir. Manusia yang berada diangkasa di luar atmosfir bumi melihat langit itu hitam dan me lihat bumi sebagai terselubung oleh lapisan warna kebiru-biruan yang disebabkan oleh sedotan atmosfir bumi terhadap cahaya matahari. Bulan yang tidak punya atmosfir nampak dengan warnanya sendiri di atas dasar langit yang hitam. Ini adalah pandangan yang sangat baru bagi manusia, pandangan angkasa yang gambar-gambarnya sudah secara umum diketahui manusia sekarang.

Di situ, jika kita menghadapkan teks Qur-an dengan Sains modern kita akan terpesona dengan ketepatan yang tak mungkin kita duga akan dibawa oleh fikiran seorang manusia yang
hidup 14 abad yang lalu.

Riwayat Bibel Serta Kritik-Kritik yang Ditimbulkannya


RIWAYAT BIBEL SERTA KRITIK-KRITIK YANG DITIMBULKANNYA

Penyelidikan tentang riwayat Banjir menurut Perjanjian Lama dalam bagian pertama daripada artikel ini telah menyampaikan kita kepada pernyataan-pernyataan seperti berikut:

Dalam Bibel tidak hanya terdapat satu riwayat tentang Banjir, akan tetapi terdapat dua riwayat yang disusun dalam waktu yang berbeda:
- Riwayat Yahwist, dibuat pada abad IX S.M
- Riwayat para pendeta (Sakerdotal), dibuat pada abad VI S.M. Riwayat ini dinamakan "Sakerdotal" karena dibuat oleh pendeta-pendeta pada waktu itu.

Dua riwayat tersebut tidak disusun terpisah akan tetapi bercampur; unsur-unsur riwayat yang satu dicampur dengan unsur-unsur riwayat yang lain, dalam paragraf-paragraf yang sebagian berasal dari riwayat yang satu dan sebagian berasal dari riwayat yang lain. Tafsiran Terjemahan kitab Kejadian karangan R.P. de Vaux, Guru Besar pada Sekolah Bibel di Yerusalem menunjukkan pembagian daripada paragraf-paragraf antara dua sumber tersebut secara sempurna. Riwayat Banjir ini dimulai dan diakhiri dengan paragraf Yahwist. Dalam riwayat itu ada 10 paragraf Yahwist. Di antara tiap paragraf dengan lainnya, diselipkan sebuah paragraf Sakerdotal. Jadi jumlah paragraf Sakerdotal adalah sembilan. Mosaik teks tersebut tidak menunjukkan keserasian kecuali dari segi urutan riwayat, oleh karena terdapat kontradiksi-kontradiksi besar antara dua sumber tersebut.

RP. de Vaux menulis: "itu adalah dua sejarah tentang Banjir." Banjir dalam dua riwayat itu disebabkan oleh faktor-faktor yang berlainan, dan panjangnya waktu berlangsungnya, juga berlainan. Nabi Nuh dalam dua riwayat itu juga memuatkan dalam perahu beberapa binatang yang
jumlahnya juga berlainan.

Menurut pengetahuan modern, dalam keseluruhannya riwayat Banjir dalam Bibel tidak dapat diterima, karena dua sebab:
a. Perjanjian Lama melukiskan banjir itu melanda seluruh dunia.
b. Paragraf-paragraf daripada sumber-sumber Yahwist tidak menyebutkan waktu terjadinya banjir, sedangkan riwayat Sakerdotal menyebutkan suatu waktu yang menurut sejarah banjir dunia semacam itu tidak bisa terjadi.

Argumentasi yang menguatkan sikap tersebut adalah seperti berikut:

Riwayat Sakerdotal mengatakan bahwa Banjir terjadi ketika Nabi Nuh berumur 600 tahun. Kita mengetahui bahwa menurut silsilah keturunan dalam fasal 5 dari kitab Kejadian (juga menurut sumber Sakerdotal yang sudah dibicarakan dalam bagian pertama dari artikel ini). Nabi Nuh lahir 1056 tahun sesudah Nabi Adam. Dengan begitu, maka Banjir itu terjadi pada tahun 1656 sesudah Nabi Adam diciptakan. Di lain pihak, jadwal silsilah keturunan Nabi Ibrahim dalam kitab Kejadian (11, 10-32) menurut sumber yang sama memberi kesan kepada kita bahwa Ibrahim lahir 292 tahun sesudah Banjir. Kita juga mengetahui bahwa Ibrahim hidup sampai kira-kira tahun 1850 S.M. Dengan begitu maka Banjir terjadi pada abad XXI atau XXII S.M. Perhitungan ini cocok dengan pernyataan Bibel-Bibel kuno di mana kronologi nampak terjadi sebelum teks Bibel tersebut, yakni pada waktu kejadian manusia tentang Banjir menyebabkan bahwa kronologi tersebut diterima oleh para pembaca tanpa dipertimbangkan.

Bagaimana pada waktu sekarang orang dapat menggambarkan bahwa Banjir sedunia membinasakan penghidupan di atas seluruh bumi (kecuali penumpang Perahu Nabi Nuh) pada abad XXI atau XXII S.M. Pada waktu itu di beberapa tempat di dunia telah bekembang bermacam-macam peradaban yang
bekas-bekasnya kita lihat sekarang. Bagi Mesir umpamanya, waktu itu adalah zaman yang menyaksikan akhirnya Kerajaan lama dan permulaan Kerajaan Baru. Jika kita ingat sejarah waktu itu adalah sangat lucu untuk mengatakan bahwa segala peradaban telah dimusnahkan oleh Banjir.

Dengan begitu maka dan segi sejarah, kita dapat mengatakan bahwa riwayat Banjir dalam Bibel bertentangan sekali dengan pengetahuan modern. Terdapatnya dua riwayat adalah bukti-bukti yang nyata tentang manipulasi manusia terhadap Bibel.


RIWAYAT QUR-AN TENTANG BANJIR

Qur-an menyajikan versi keseluruhan yang berlainan dan tidak menimbulkan kritik dari segi sejarah.

Qur-an tidak memberikan riwayat Banjir yang kontinyu. Beberapa ayat membicarakan hukuman yang diberikan kepada umatnya Nabi Nuh- Riwayat yang paling lengkap adalah surat 11 ayat 25 s/d 49. Surat 71 yang dinamakan surat Nuh menceritakan Nuh memberi nasehat kepada umatnya, begitu juga
surat 26 ayat 105 s/d 112. Tetapi sebelum menyelidiki kejadian itu, kita perlu menempatkan Banjir yang diriwayatkan oleh Qur-an dalam hubungannya dengan hukuman-hukuman Tuhan yang dikenakan kepada kelompok-kelompok yang salah karena menyalahi perintahNya.

Jika Bibel menceritakan Banjir Dunia untuk menghukum seluruh kemanusiaan yang tidak patuh, sebaliknya Qur-an menceritakan bermacam-macam hukuman yang dikenakan kepada
kelompok-kelompok tertentu.

Surat 25 ayat 35 s/d 39:

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai pembantu. Kemudian kami berfirman kepada keduanya: "Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat kami." Lalu Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (ceritera) mereka itu pelajaran bagi munusia dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih. Dan (begitu pula Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass21 dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut."

Surat 7 ayat 59 s/d 93 mengingatkan kepada hukum-hukum Tuhan yang menimpa kaum Nuh. 'Ad, Tsamud, Lut dan Madyan secara terpisah.

Dengan begitu maka Qur-an menggambarkan Banjir sebagai suatu hukuman yang khusus untuk kaumnya Nulz. Ini merupakan perbedaan pertama yang pokok antara kedua riwayat.

Perbedaan pokok kedua adalah bahwa Qur-an tidak menempatkan Banjir dalam suatu waktu dan tidak menerangkan berapa lama Banjir itu berlangsung.

Sebab-sebab Banjir adalah hampir sama dalam Bibel dan Qur-an. Riwayat Sakerdotal (Kejadian 7, 11) menyebutkan dua hal: sumber-sumber, memancarkan air banyak sekali, dan langit-langit mencurahkan lautan-lautan Qur-an menyebutkan dalam surat 54 ayat 11 dan 12 sebagai berikut:

Artinya: "Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air maka bertemulah air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan."

Qur-an sangat jelas dalam menyebutkan isi perahu; Tuhan memberi perintah kepada Nuh dan perintah itu dilaksanakan dengan tepat dengan menempatkan dalam perahu beberapa macam binatang yang akan langsung hidup.

Surat 11 ayat 40:

Artinya: "Hingga bila perintah Kami datang dan dapur (permukaan bumi) telah memancarkan air, Kami berfirman: Muatkanlah kedalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan Kami terhadapnya dan (muatkanlah) pula orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit."

Seorang anak Nuh yang mendapat laknat Tuhan telah dikecualikan. Dalam hal ini ayat 45 s/d 46 dari surat tersebut menceritakan bahwa permohonan Nuh kepada Allah tidak dapat merubah keputusan Tuhan. Qur-an menyebutkan bahwa di atas perahu, disamping keluarga Nuh minus anaknya, terdapat pula beberapa penumpang yang percaya kepada Tuhan. Bibel tidak menyebutkan orang-orang itu di antara para penumpang-penumpang perahu.

Menurut riwayat Sakerdotal: Nuh, keluarganya sendiri dengan tak ada kecualian, dan sepasang dari tiap-tiap jenis binatang.

Riwayat Yahwist membedakan antara binatang-binatang suci dan burung di satu pihak dan di lain pihak binatang-binatang yang tidak suci. (Daripada binataing suci, perahu itu memuat 7 dari tiap jenis, jantan dan betina, dan dan yang tidak suci hanya satu pasang).

Menurut ayat Yahwist yang sudah dirubah (Keluaran 7, 8), sepasang dari tiap-tiap jenis, baik yang suci maupun yang tidak suci.

Riwayat banjir itu sendiri dimuat dalam Qur-an surat 11 ayat 25 s/d 49, dan surat 23 ayat 23 s/d 30. Riwayat Bibel tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.

Tempat perahu itu berhenti, menurut Bibel adalah di gunung Ararat (Kejadian 8, 4), dan menurut Qur-an tempat itu adalah Joudi (surat 11 ayat 44). Gunung Joudi ini adalah puncak tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia; tetapi tak dapat dijamin bahwa tak ada perubahan-perubahan nama untuk menyesuaikan antara kedua riwayat. R. Blachere berpendapat seperti itu. Menurut dia, banyak nama Joudi di Arabia, jadi persamaan nama mungkin buat-buatan.

Secara definitif, terdapat perbedaan antara riwayat Quran dan riwayat Bibel. Perbedaan-perbedaan itu ada yang tak dapat diselidiki secara ilmiah karena tak ada data-data
positif.

Tetapi jika kita harus menyelidiki riwayat Bibel dengan perantaraan data-data yang jelas, kita dapat menyatakan bahwa dalam meriwayatkan Banjir dalam waktu dan tempat riwayat Bibel sudah terang tidak sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan pengetahuan modern. Sebaliknya, riwayat Qur-an bersih dari segala unsur yang menimbulkan kritik objektif.

Antara waktu riwayat Bibel dengan waktu riwayat Qur-an apakah manusia sudah memperoleh informasi yang memberi penerangan tentang kejadian Banjir itu? Jawaban atas pertanyaan itu adalah "Tidak," karena antara waktu Perjanjian Lama dan Qur-an, satu-satunya dokumentasi yang dimiliki manusia, tentang sejarah kuno adalah Bibel. Jika faktor manusia tidak dapat menerangkan perubahan dalam riwayat, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu: Faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian sesudah wahyu
yang ditulis dalam Bibel.

Penciptaan Langit dan Bumi Dalam Qur'an


Dalam dua paragraf daripada Qur-an yang baru saja kita sebutkan, terdapat ayat mengenai penciptaan langit-langit dan bumi (surat 7 ayat 54), dan di lain tempat disebutkan penciptaan bumi dan langit-langit (surat 41 ayat 9 s/d 12), nampak bahwa Qur-an tidak menunjukkan urut-urutan dalampenciptaan langit-langit dan bumi.

Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam surat 2 ayat 29, dan dalam surat 20 ayat 4. Akan tetapi terdapat lebih. banyak ayat-ayat di mana langit-langit disebutkan sebelum bumi (surat 7 ayat 54, surat 10 ayat 3, surat 11 ayat 7, surat 25 ayat 59, surat 32 ayat 4, surat 50 ayat 38, surat 57 ayat 4, surat 79 ayat 27, dan surat 91 ayat 5 s.d. 10).

Jika kita tinggalkan surat 79, tak ada suatu paragraf dalam Qur-an yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal. Yang terdapat hanya huruf "wa" yang artinya "dan" serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata "tsumma" yang sudah kita bicarakan di atas dan yang dapat menunjukkan, sekedar sesuatu di samping sesuatu lainnya, atau urutan.

Pada hemat saya, hanya terdapat satu paragraf dalam Quran, di mana disebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu ayat 27 s.d. ayat 33 surat 79

Artinya: "Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi sesudah itu dihamparkannya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh Semua itu untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu."

Perincian nikmat-nikmat Dunia yang Allah berikan kepada manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi petani atau orang-orang pengembara (nomad) di Jazirah Arabia, didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman, dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah terlaksana. Terang bahwa di sini ada dua hal yang dibicarakan: kelompok kejadian-kejadian samawi dan kelompok kejadian-kejadian di bumi yang diterangkan dengan waktu. Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada ketika Tuhan membentuk langit. Dapat kita simpulkan bahwa evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu tak perlu memberi arti khusus mengenai disebutkannya bumi sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan, jika memang tak ada penentuan dalam hal ini pada ayat-ayat lain.

Perbedaan dan Persamaan dengan Riwayat Dalam Bibel


Berbeda dengan Perjanjian Lama, Qur-an tidak menyajikan suatu riwayat yang menyeluruh tentang penciptaan. Sebagai ganti suatu riwayat yang sambung menyambung, kita dapatkan di beberapa tempat dalam Qur-an ayat-ayat yang menunjukkan aspek-aspek tertentu daripada penciptaan dan memberi sedikit banyak perincian mengenai kejadian-kejadian yang menunjukkannya secara berturut-turut. Untuk mempunyai gambaran yang jelas tentang bagaimana kejadian-kejadian itu disajikan, kita harus mengumpulkan bagian-bagian yang terpisah-pisah dalam beberapa surat.

Menyebutkan sesuatu kejadian dalam beberapa tempat dalam Qur-an tidak hanya khusus mengenai penciptaan. Banyak soal-soal penting juga dilakukan semacam itu, baik mengenai kejadian-kejadian di bumi atau di langit atau mengenai soal-soal tentang manusia yang sangat penting bagi ahli Sains. Bagi tiap-tiap kejadian tersebut, telah diadakan suatu pengumpulan ayat-ayat.

Bagi banyak pengarang Eropa, riwayat Qur-an tentang penciptaan sangat mirip dengan riwayat Bibel, dan mereka senang untuk menunjukkan dua riwayat tersebut secara paralel. Saya merasa bahwa ide semacam itu salah, karena terdapat perbedaan-perbedaan yang nyata antara dua riwayat. Dalam soal-soal yang penting dari segi ilmiah, kita dapatkan dalam Qur-an keterangan-keterangan yang tak dapat kita jumpai dalam Bibel. Dan Bibel memuat perkembangan-perkembangan yang tak ada bandingannya dalam Qur-an.

Persamaan yang semu antara dua teks sangat terkenal; di antaranya angka-angka yang berurut tentang penciptaan, pada permulaannya nampak identik; enam hari dalam Qur-an sama dengan enam hari dalam Bibel. Tetapi pada hakekatnya, persoalannya adalah lebih kompleks dan perlu diselidiki.
Enam Perioda Penciptaan Langit dan Bumi

ENAM PERIODE DARIPADA PENCIPTAAN

Riwayat Bibel menyebutkan secara tegas bahwa penciptaan alam itu terjadi selama enam hari dan diakhiri dengan hari istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti hari-hari dalam satu minggu. Kita telah mengetahui bahwa cara meriwayatkan seperti ini telah dilakukan oleh para pendeta pada abad keenam sebelum Masehi, dan dimaksudkan untuk menganjurkan mempraktekkan istirahat hari Sabtu; tiap orang Yahudi harus istirahat pada hari Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh Tuhan setelah bekerja selama enam hari.

Jika kita mengikuti faham Bibel, kata "hari" berarti masa antara dua terbitnya matahari berturut-turut atau dua terbenamnya matahan berturut-turut. Hari yang difahami secara ini ada hubungannya dengan peredaran Bumi sekitar dirinya sendiri. Sudah terang bahwa menurut logika orang tidak dapat memakai kata "hari" dalam arti tersebut di atas pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari, yakni adanya Bumi serta beredarnya sekitar matahari, belum terciptakan pada tahap-tahap pertama daripada Penciptaan menurut riwayat Bibel; ketidak mungkinan hal ini telah kita
bicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini.

Jika kita menyelidiki kebanyakan terjemahan Qur-an, kita dapatkan, seperti yang dikatakan oleh Bibel, bahwa bagi wahyu Islam, proses penciptaan berlangsung dalam waktu enam hari. Kita tidak dapat menyalahkan penterjemah-penterjemah Qur-an karena mereka memberi arti "hari" dengan arti yang sangat lumrah.

Kita dapatkan terjemahan Surat 7 (A'raf) ayat 54:

[Tulisan Arab]

Artinya: "Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari."

Sedikit jumlah terjemahan atau tafsir Qur-an yang mengingatkan bahwa kata "hari" harus difahami sebagai "periode."

Ada orang yang mengatakan leahwa teks Qur-an tentang penciptaan alam membagi tahap-tahap penciptaan itu dalam "hari-hari" dengan sengaja dengan maksud agar semua orang menerima hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen pada permulaan lahirnya Islam dan agar soal penciptaan tersebut tidak bentrok dengan keyakinan yang sangat tersiar luas.

Dengan tidak menolak cara interpretasi seperti tersebut, apakah kita tidak dapat menyelidiki lebih dekat dan meneliti arti yang mungkin diberikan oleh Qur-an sendiri dan oleh bahasa-bahasa pada waktu tersiarnya Qur-an, yaitu kata yaum (jamaknya ayyam).

Arti yang paling terpakai daripada "yaum" adalah "hari," tetapi kita harus bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan adalah terangnya waktu siang dan bukan waktu antara terbenamnya matahari sampai terbenamnya lagi. Kata jamak "ayyam" dapat berarti beberapa hari akan tetapi juga dapat berarti waktu yang tak terbatas, tetapi lama. Arti kata "ayyam" sebagai periode juga tersebut di tempat lain dalam Qur-an, surat 32 (Sajdah) ayat 5:

"Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari perhitungan kamu."

Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma'arij) ayat 4, kita dapatkan:

"Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun."


Bahwa kata "'yaum" dapat berarti "periode" yang sangat berbeda dengan "hari" telah menarik perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang tentu saja tidak mempunyai pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki sekarang.

Maka Abussu'ud, ahli tafsir abad XVI M. tidak dapat menggambarkan hari yang ditetapkan oleh astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya bumi dan mengatakan bahwa untuk penciptaan alam diperlukan suatu pembagian waktu, bukan dalam "hari" yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam "peristiwa-peristiwa" atau dalam bahasa Arabnya "naubat".

Ahli-ahli Tafsir modern mempergunakan lagi interpretasi tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu mengartikan "hari" dalam ayat-ayat tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode yang panjang, atau "age".

Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, Qur-an menunjukkan jarak waktu yang sangat panjang yang jumlahnya enam. Sains modern tidak memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir dengan terciptanya alam dapat dihitung "enam." Tetapi Sains modern sudah menunjukkan secara formal bahwa persoalannya adalah beberapa periode yang sangat panjang, sehingga arti "hari" sebagai yang kita fahami sangat tidak sesuai.

Suatu paragraf yang sangat panjang dan membicarakan penciptaan alam merangkaikan riwayat tentang kejadian-kejadian di bumi dengan kejadian-kejadian di langit; yaitu surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai berikut:

[Tulisan Arab]

Artinya: "Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkah kamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta alam. Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup) sesuai bagi segala yang memerlukannya.

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan dia (langit itu masih merupakan) asap lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi 'Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab: 'Kamidatang-dengan suka hati.'

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."

Empat ayat dari Surat 41 tersebut menunjukkan beberapa aspek; bentuk gas yakni bentuk pertama daripada bahan samawi serta pembatasan secara simbolis bilangan langit sampai tujuh. Kita akan melihat nanti apa arti angka tersebut. Percakapan antara Tuhan di satu pihak dan langit dan bumi di pihak lain adalah simbolis; maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa setelah diciptakan Tuhan, langit-langit dan bumi menyerah kepada perintah-perintah Tuhan.

Ada orang-orang yang mengatakan bahwa paragraf tersebut bertentangan dengan ayat yang mengatakan bahwa penciptaan itu melalui enam periode. Dengan menjumlahkan dua periode yang merupakan penciptaan bumi dan empat periode untuk pembagian makanan bagi penduduknya dan dua periode untuk penciptaan langit, kita akan mendapatkan delapan periode, dan hal ini merupakan kontradiksi dengan enam periode tersebut di atas.

Sesungguhnya teks yang dimaksudkan untuk mengajak orang berfikir tentang kekuasaan Tuhan dengan memulai memikirkan bumi sehingga nanti dapat memikirkan langit, teks tersebut merupakan dua bagian yang dipisahkan dengan kata: "tsumma" yang berarti: di samping itu (selain daripada itu). Tetapi kata tersebut juga berarti: kemudian daripada itu. Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yakni urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi juga mungkin hanya berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti: urut-urutan. Bagaimanapun juga, periode penciptaan langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi. Sebentar lagi kita akan membicarakan bagaimana Qur-an menyebutkan proses elementer penciptaan alam dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi pada waktu yang sama untuk langit dan bumi sesuai dengan konsep modern. Dengan begitu kita akan mengerti benar kebolehan menggambarkan simultanitas kejadian-kejadian yang disebutkan dalam fasal ini.

Jadi tak ada pertentangan antara paragraf yang kita bicarakan dengan konsep yang terdapat dalam teks-teks yang lain yang ada dalam Qur-an, yakni teks yang mengatakan bahwa penciptaan alam itu terjadi dalam enam periode.

Banjir Nabi Nuh Menurut Bibel


Fasal 6, 7 dan 8 daripada Kitab Kejadian dipergunakan untuk meriwayatkan banjir untuk lebih tepat, saya katakan bahwa ada dua riwayat yang tidak ditulis satu di samping lainnya, akan tetapi terpisah dengan kalimat-kalimat yang memberi kesan seperti adanya kesinambungan antara berbagai-bagai dongeng. Akan tetapi sesungguhnya dalam tiga fasal tersebut terdapat kontradiksi yang menyolok. Kontradiksi tersebut dapat diterangkan dengan adanya dua sumber yang berlainan, yaitu sumber Yahwist dan sumber Sakerdotal.

Kita telah melihat sebelum ini bahwa dua sumber tersebut membentuk suatu campuran yang pincang. Tiap teks asli dipotong-potong dalam paragraf-paragraf dan kalimat-kalimat, dengan unsur daripada satu sumber berseling dengan unsur-unsur dari sumber yang lain, sehingga dalam teks Perancis, orang melompat dari satu sumber ke sumber yang lain tujuh belas kali, sepanjang hanya seratus baris.

Secara keseluruhan, hikayat banjir adalah sebagai berikut:

Karena maksiat manusia sudah sangat umum, Tuhan memutuskan untuk memusnahkan manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, Tuhan memberi tahu Nabi Nuh dan memerintahnya untuk membikin perahu, serta membawa muatan yang terdiri dari isterinya, tiga orang anaknya dengan isteri-isteri mereka, serta beberapa makhluk hidup lain. Mengenai makhluk-makhluk hidup ini, dua sumber berbeda. Satu riwayat yang berasal dari sumber Sakerdotal mengatakan Nuh membawa satu pasang dari tiap jenis. Kemudian dalam kata-kata berikutnya (berasal dan sumber Yahwist) dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan mengambil 7 dari tiap-tiap jenis jantan dan betina dari jenis yang suci, dan hanya satu pasang dari jenis yang tidak suci.


Akan tetapi lebih lanjut lagi, dikatakan bahwa Nuh hanya membawa dalam perahu itu satu pasang daripada tiap jenis. Ahli-ahli Perjanjian Lama seperti R.P. de Vaux mengatakan bahwa teks semacam itu merupakan teks Yahwist yang sudah dirubah.

Satu paragraf (dari sumber Yahwist) mengatakan bahwa sebab banjir adalah air hujan, sedang paragraf lain (dari sumber Sakerdotal) mengatakan bahwa sebab banjir adalah dua yaitu air hujan dan sumber-sumber dari tanah.

Seluruh bumi telah tenggelam sampai diatas puncak gunung. Segala kehidupan musnah. Setelah satu tahun, Nabi Nuh keluar dari perahunya yang telah berada diatas puncak gunung Ararat setelah air bah menurun.

Di sini kita harus menambahkan bahwa lamanya banjir itu berbeda menurut sumbernya. Sumber Yahwist mengatakan 40 hari sedang sumber Sakerdotal mengatakan 50 hari.

Sumber Yahwist tidak memastikan pada umur berapa banjir itu dialami oleh Nabi Nuh, tetapi sumber Sakerdotal mengatakan bahwa banjir itu terjadi waktu Nabi Nuh berumur 600 tahun.

Sumber Sakerdotal juga memberi penjelasan tentang tahun terjadinya banjir yaitu dengan tabel silsilahnya, baik dari segi Nabi Adam maupun dari segi Nabi Ibrahim. Oleh karena menurut perhitungan yang dilakukan atas dasar Kitab Kejadian, Nabi Nuh dilahirkan 1056 tahun sesudah Nabi Adam (silahkan lihat tabel nenek moyang dari Ibrahim) maka banjir telah terjadi 1656 tahun sesudah lahirnya Nabi Adam. Akan tetapi dilihat dari segi Nabi Ibrahim, Kitab Kejadian menempatkan terjadinya banjir pada 292 tahun sebelum lahirnya Nabi Ibrahim tersebut.


Menurut Kitab Kejadian, banjir mengenai seluruh jenis manusia dengan seluruh makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan telah mati di atas bumi. Kemanusiaan telah dibangun kembali, dimulai dengan tiga orang putra Nuh dan isteri-isteri mereka, sedemikian rupa bahwa tiga abad kemudian lahirlah Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim mendapatkan jenis manusia sudah pulih kembali dalam kelompok-kelompok bangsa. Bagaimana dalam waktu yang singkat, jenis manusia dapat pulih kembali? Soal ini
telah menghilangkan kepercayaan kepada riwayat banjir tersebut.

Di samping itu, bukti-bukti sejarah menunjukkan ketidakserasian riwayat tersebut dengan ilmu pengetahuan modern. Sekarang ini ahli sejarah menempatkan Nabi Ibrahim pada tahun 1800-1850 SM. Jika banjir telah terjadi 3 abad sebelum Nabi Ibrahim seperti yang diterangkan oleh Kitab Kejadian dalam silsilah keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir telah terjadi pada abad XXI atau XXII SM. Pada waktu itu, menurut ilmu sejarah modern, di beberapa tempat di dunia ini sudah bermunculan bermacam-inacam peradaban yang bekas-bekasnya telah sampai kepada kita. Waktu itu, bagi Mesir merupakan periode sebelum Kerajaan Pertengahan (tahun 2100 SM), kira-kira zaman peralihan pertama sebelum Dinasti ke- sebelas. Waktu itu, adalah periode dinasti ketiga di kota Ur atau Babylon. Kita tahu dengan pasti bahwa tak ada keterputusan dalam kebudayaan, jadi tak ada pemusnahan jenis manusia seperti dikehendaki oleh Bibel.


Oleh karena itu maka kita tak dapat memandang tiga riwayat Bibel sebagai menggambarkan kejadian-kejadian yang sesuai dengan kebenaran. Jika kita ingin bersikap obyektif kita harus mengakui bahwa teks-teks yang kita hadapi tidak merupakan pernyataan kebenaran. Mungkinkah Tuhan memberikan sebagai wahyu kecuali hal-hal yang benar? Kita tak dapat menggambarkan Tuhan yang memberi pelajaran kepada manusia dengan perantaraan khayal dan khayal yang kontradiksi. Dengan begitu maka kita terpaksa membentuk hipotesa bahwa Bibel adalah tradisi yang secara lisan diwariskan dari suatu generasi kepada generasi yang lain, atau hipotesa bahwa Bibel adalah suatu teks dari tradisi-tradisi yang sudah tetap. Jika seseorang mengatakan bahwa suatu karya seperti Kitab
Kejadian telah dirubah-rubah sedikitnya dua kali selama tiga abad, maka tidak mengherankan jika kita mendapatkan didalamnya kekeliruan-kekeliruan atau riwayat yang tidak sesuai dengan hal-hal yang telah diungkapkan oleh kemajuan pengetahuan manusia, yaitu kemajuan yang jika tidak memberi ilmu tentang segala sesuatu, sedikitnya kemajuan yang memungkinkan seseorang mendapat pengetahuan yang cukup untuk menilai keserasian dengan riwayat-riwayat kuno. Tidak ada yang lebih logis daripada berpegangan bahwa interpretasi kesalahan teks-teks Bibel itu hanya menyangkut manusia.

Sangat disayangkan, bahwa interpretasi semacam ini tidak diakui oleh kebanyakan ahli tafsir Bibel, baik orang Yahudi maupun orang Kristen. Tetapi walaupun begitu argumentasi mereka perlu kita perhatikan.
Back To Top